Kisah tentang Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tidak dapat dilepaskan dari peran satu tokoh visioner: Henry Dunant. Seorang pengusaha Swiss ini adalah saksi mata tragedi kemanusiaan yang mengubah pandangannya tentang perang dan bantuan. Perjalanan Dunant dari urusan bisnis pribadi hingga memimpin gagasan global adalah esensi dari Lahirnya Gerakan Internasional yang paling berpengaruh di dunia. Momen kunci yang menjadi katalisator bagi Lahirnya Gerakan Internasional ini adalah pengalaman traumatisnya di Italia Utara pada pertengahan abad ke-19. Kisah Dunant adalah sebuah narasi tentang bagaimana belas kasih dan inisiatif individu dapat memimpin pada perubahan hukum dan kemanusiaan yang abadi.
Bencana Solferino (1859): Katalisator Perubahan
Pada bulan Juni 1859, Henry Dunant, yang saat itu berusia 31 tahun dan sedang dalam perjalanan bisnis untuk bertemu dengan Kaisar Napoleon III, tiba di kota Solferino, Italia Utara. Perjalanannya bertepatan dengan pertempuran besar antara pasukan Prancis-Sardinia melawan pasukan Austria. Pertempuran tersebut sangat brutal dan meninggalkan sekitar 40.000 tentara tewas atau terluka di medan perang.
Apa yang dilihat Dunant setelah pertempuran usai sungguh mengerikan: ribuan prajurit yang terluka ditinggalkan di bawah terik matahari tanpa perawatan medis yang memadai. Kurangnya layanan medis dan sistem evakuasi yang terorganisir menyebabkan penderitaan yang tak terbayangkan. Tergerak oleh pemandangan yang menyayat hati ini, Dunant mengesampingkan urusan bisnisnya. Dengan bantuan penduduk lokal, terutama para wanita dari kota terdekat Castiglione delle Stiviere, Dunant mengorganisir upaya bantuan darurat, memberikan air, makanan, dan perawatan dasar kepada para korban. Prinsip yang ia tanamkan pada penduduk setempat adalah “Tutti fratelli” (Kita semua bersaudara), menekankan bantuan tanpa memandang pihak mana tentara itu berasal. Tindakan spontan ini merupakan cikal bakal dari prinsip Kesamaan dan Kemanusiaan yang kini menjadi Prinsip Dasar PMI.
Visi Dunant: Sebuah Memori dari Solferino
Kembali ke Jenewa pada tahun 1860, Dunant tidak dapat melupakan kengerian yang ia saksikan. Pada tahun 1862, ia menerbitkan bukunya yang terkenal, A Memory of Solferino (Kenangan dari Solferino). Dalam buku ini, ia tidak hanya menceritakan pengalaman pribadinya secara rinci, tetapi juga mengajukan dua usulan radikal yang menjadi pendorong utama Lahirnya Gerakan Internasional:
- Membentuk badan bantuan sukarela yang netral di setiap negara untuk merawat tentara yang terluka pada masa perang.
- Menyusun perjanjian internasional yang akan memberikan perlindungan hukum dan pengakuan netralitas kepada staf medis dan relawan, terlepas dari pihak mana mereka melayani.
Publikasi buku ini memiliki dampak yang luas dan mendalam di kalangan elit Eropa.
Pembentukan Komite dan Konvensi Jenewa
Usulan Dunant segera direspons oleh empat warga terkemuka Jenewa lainnya, yang pada tanggal 17 Februari 1863, membentuk sebuah komite beranggotakan lima orang. Komite ini, yang kemudian berganti nama menjadi Komite Internasional Palang Merah (ICRC), mulai bekerja keras mewujudkan usulan Dunant.
Puncak dari upaya ini terjadi pada Konferensi Diplomatik Internasional di Jenewa pada tanggal 22 Agustus 1864. Di konferensi tersebut, perwakilan dari 12 negara menyepakati Konvensi Jenewa Pertama, yang secara resmi memberikan netralitas dan perlindungan hukum kepada personel medis, fasilitas, dan alat transportasi yang ditandai dengan Lambang Palang Merah di atas latar belakang putih. Keputusan bersejarah ini menandai tanggal resmi Lahirnya Gerakan Internasional Palang Merah.
Meskipun Henry Dunant kemudian menghadapi kemunduran pribadi dan kemiskinan, ia akhirnya diakui atas kontribusinya yang luar biasa. Pada tahun 1901, ia dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian pertama bersama dengan Frédéric Passy, mengukuhkan warisannya sebagai pendiri gerakan kemanusiaan modern yang abadi.
