CPR Sesuai Standar PMI: Teknik Kompresi Dada dan Bantuan Napas yang Efektif
Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah prosedur penyelamatan hidup yang dilakukan ketika jantung seseorang berhenti berdetak (henti jantung). Keefektifan CPR sangat bergantung pada ketepatan Teknik Kompresi dada dan bantuan napas yang diberikan. Palang Merah Indonesia (PMI) mengajarkan standar CPR yang mengacu pada panduan internasional untuk memastikan sirkulasi darah dan oksigen tetap berjalan ke otak dan organ vital hingga bantuan medis profesional tiba.
Momen kritis bagi korban henti jantung, seperti yang dialami seorang pengunjung di area food court Mal Grand Indonesia pada hari Sabtu, 15 Juni 2024, pukul 19.45 WIB, memerlukan tindakan segera. Protokol D-R-S (Danger, Response, Send for Help) harus selalu menjadi prioritas utama. Setelah memastikan area aman (Danger), korban tidak responsif (Response), dan bantuan medis (menghubungi 112) telah dipanggil, penolong harus segera memulai CPR.
Teknik Kompresi Dada
Teknik Kompresi dada adalah komponen paling penting dalam CPR. Tujuannya adalah memompa darah secara manual dari jantung ke seluruh tubuh. PMI menetapkan pedoman yang sangat spesifik untuk memaksimalkan efektivitas:
- Posisi Korban: Korban harus diletakkan pada permukaan yang keras dan datar (lantai atau tanah).
- Penempatan Tangan: Letakkan tumit salah satu tangan di tengah dada korban, tepatnya di separuh bawah tulang dada (sternum). Letakkan tumit tangan kedua di atas tangan pertama, dengan jari-jari saling mengunci.
- Postur Penolong: Posisi penolong harus berada di samping korban dengan bahu tegak lurus di atas dada korban. Lengan harus lurus dan siku tidak boleh ditekuk. Gunakan berat badan penolong untuk menekan, bukan hanya kekuatan lengan.
- Kedalaman dan Kecepatan: Kedalaman kompresi harus mencapai minimal 5 cm dan maksimal 6 cm untuk korban dewasa. Kecepatan kompresi harus dijaga pada rentang 100 hingga 120 kali per menit.
Kualitas Teknik Kompresi harus dipertahankan; pastikan dada mengembang kembali ke posisi normal setelah setiap kompresi (rekoil penuh) untuk memungkinkan jantung terisi darah kembali. Kompresi yang efektif tanpa rekoil penuh akan mengurangi manfaat CPR secara signifikan.
Bantuan Napas (Resusitasi Napas)
Setelah 30 kali kompresi dada, penolong harus memberikan 2 kali bantuan napas.
- Membuka Jalan Napas: Lakukan teknik Head Tilt-Chin Lift (tengadahkan kepala dan angkat dagu) untuk membuka jalur napas korban.
- Pemberian Napas: Tutup hidung korban dengan jari, tempelkan mulut penolong secara rapat di atas mulut korban, dan berikan tiupan napas selama kira-kira 1 detik, cukup kuat untuk membuat dada korban terlihat mengembang. Berikan napas kedua setelah napas pertama berhasil.
Siklus ini harus dilakukan secara konsisten: 30 Kompresi : 2 Bantuan Napas.
CPR harus dilanjutkan tanpa henti hingga korban menunjukkan tanda-tanda sadar (seperti batuk atau bergerak), bantuan medis profesional tiba (misalnya, tim dari RSUD dr. Soetomo tiba di lokasi pada pukul 20.05 WIB), atau penolong sudah kelelahan total.
Kepala Divisi Pelatihan PMI Kota Bandung, Bapak Dr. Budi Santoso, M.Kes., pada konferensi pers 5 Juli 2024, menekankan bahwa kombinasi akurat dari Teknik Kompresi dan bantuan napas secara berulang-ulang adalah kunci sukses CPR, yang dapat meningkatkan peluang hidup korban dua hingga tiga kali lipat. Oleh karena itu, pelatihan CPR yang berkelanjutan sangat dianjurkan untuk seluruh lapisan masyarakat.
