Ketika sebuah bencana terjadi, perhatian publik dan media sering kali terfokus pada bantuan medis dan logistik. Namun, di balik tenda-tenda darurat dan ambulans yang sibuk, ada bentuk pertolongan PMI lain yang tak kalah penting: bantuan psikososial. Pertolongan PMI ini berfokus pada pemulihan mental dan emosional para korban. Mengabaikan aspek ini sama dengan mengobati luka fisik tanpa memperhatikan trauma batin. Memahami mengapa bantuan psikososial sama pentingnya dengan bantuan medis adalah kunci untuk memberikan dukungan yang komprehensif dan berkelanjutan bagi para penyintas bencana.
Bencana tidak hanya merenggut harta benda dan melukai fisik, tetapi juga meninggalkan luka emosional yang mendalam. Rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian dapat memicu trauma, kecemasan, bahkan depresi. Jika tidak ditangani, luka batin ini dapat menghambat proses pemulihan dan memengaruhi kesehatan mental jangka panjang. Di sinilah peran vital tim pertolongan PMI dalam Bantuan Psikososial (BPS) masuk. Tim BPS, yang terdiri dari relawan terlatih, bekerja untuk memberikan dukungan emosional, membangun kembali rasa aman, dan membantu korban memproses pengalaman traumatis mereka. Mereka melakukan berbagai aktivitas, mulai dari mendengarkan cerita para penyintas, mengadakan kegiatan bermain untuk anak-anak, hingga sesi konseling kelompok.
Aktivitas BPS sangat bervariasi tergantung pada kelompok usia. Untuk anak-anak, misalnya, PMI mengadakan permainan, menggambar, dan mendongeng. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang terasa aman dan normal, sehingga anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka melalui cara yang lebih mudah. Menurut data dari laporan PMI Pusat, pada saat gempa di Cianjur pada November 2022, tim BPS PMI telah menjangkau lebih dari 5.000 anak-anak di posko pengungsian. Pertolongan PMI semacam ini membantu mereka merasa didukung dan tidak sendirian dalam menghadapi situasi yang menakutkan.
Bagi orang dewasa dan lansia, dukungan psikososial bisa berupa sesi bincang-bincang santai atau konseling individual. Tujuannya adalah untuk memberikan ruang aman bagi mereka untuk berbagi rasa sedih, frustrasi, dan kekhawatiran tanpa dihakimi. Selain itu, tim PMI juga membantu menghubungkan kembali keluarga yang terpisah dan memberikan informasi yang akurat, yang dapat mengurangi ketidakpastian dan kecemasan. Pada sebuah rapat koordinasi dengan aparat kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 14 Mei 2025, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI menekankan bahwa “Aspek psikologis adalah kunci pemulihan. Tanpa dukungan mental yang kuat, korban akan sulit bangkit dan memulai kembali hidup mereka.”
Kesimpulannya, pertolongan PMI adalah sebuah paket lengkap yang berfokus pada penyembuhan fisik dan mental. Dengan mengakui bahwa bantuan psikososial memiliki peran yang sama pentingnya dengan bantuan medis, PMI menunjukkan komitmennya pada kemanusiaan yang holistik. Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua: di tengah krisis, jangan hanya fokus pada apa yang terlihat di permukaan. Luka yang tidak terlihat sering kali membutuhkan perhatian dan empati yang lebih besar.
