Palang Merah Indonesia (PMI) menyadari bahwa respons bencana yang paling efektif dimulai dari komunitas yang tangguh. Inilah mengapa PMI menciptakan SIBAT, singkatan dari Siaga Bencana Berbasis Masyarakat. SIBAT merupakan program unggulan yang memberdayakan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan untuk secara mandiri merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan upaya kesiapsiagaan bencana. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, SIBAT bertujuan untuk Membangun Ketahanan Bencana yang berkelanjutan, meminimalkan risiko, dan mempercepat pemulihan ketika bencana terjadi. Program ini mengubah desa yang rentan menjadi desa yang siaga.
Filosofi inti SIBAT adalah bahwa masyarakat lokal adalah pihak yang paling tahu tentang ancaman, kerentanan, dan sumber daya yang mereka miliki. PMI memfasilitasi pembentukan tim SIBAT di setiap desa terpilih, yang anggotanya terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, dan relawan lokal. Tim ini dilatih secara intensif mengenai berbagai aspek manajemen bencana, mulai dari pemetaan risiko, penyusunan rencana kontingensi, hingga praktik pertolongan pertama dasar. Salah satu capaian kunci tim SIBAT adalah penyusunan Peta Bahaya dan Peta Sumber Daya. Sebagai contoh, di Desa Sukamakmur, Jawa Barat, tim SIBAT pada tanggal 20 September 2025 berhasil mengidentifikasi lima titik rawan longsor yang sebelumnya tidak tercatat oleh otoritas kabupaten, memungkinkan pemasangan rambu peringatan dini di lokasi tersebut.
Upaya Membangun Ketahanan Bencana melalui SIBAT juga mencakup simulasi rutin. Simulasi evakuasi, misalnya, dilakukan minimal dua kali dalam setahun untuk memastikan seluruh warga desa, termasuk kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, tahu rute dan tempat berkumpul yang aman. Dalam pelatihan yang dilakukan di Kabupaten Lebak, Banten, pada 12 Desember 2025, PMI melatih tim SIBAT untuk fokus pada prosedur evakuasi cepat dalam waktu kurang dari 10 menit setelah alarm peringatan dini berbunyi. Kecepatan ini krusial di wilayah yang rentan terhadap tsunami atau banjir bandang.
Selain mitigasi, SIBAT juga melatih kemampuan teknis. Anggota SIBAT dibekali dengan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dasar, manajemen dapur umum sederhana, dan teknik komunikasi darurat. Kehadiran SIBAT sangat vital karena mereka adalah pihak pertama yang dapat memberikan respons dalam golden hour—periode waktu kritis setelah bencana di mana pertolongan medis sangat menentukan kelangsungan hidup korban—sebelum bantuan dari PMI cabang atau badan nasional tiba. Oleh karena itu, Membangun Ketahanan Bencana melalui SIBAT adalah strategi paling efektif untuk mengurangi angka korban jiwa dan mempercepat langkah awal pemulihan.
Program SIBAT membuktikan bahwa modal utama dalam menghadapi bencana bukanlah infrastruktur yang mahal, melainkan kapasitas dan kesadaran kolektif dari masyarakat itu sendiri.
