Melihat seseorang mengenakan seragam merah dengan lambang palang merah di dada seringkali diasosiasikan dengan bantuan dan pertolongan. Namun, sedikit yang mengetahui apa yang terjadi di dalam kehidupan pribadi mereka. Judul Dibalik Seragam Merah ini ingin mengungkap sisi lain dari dedikasi yang luar biasa, di mana kepentingan publik seringkali diletakkan jauh di atas kepentingan pribadi. Di Provinsi Jambi, para relawan ini menghadapi tantangan geografis yang unik, mulai dari lahan gambut yang luas hingga sungai-sungai besar yang sering meluap, yang menuntut kesiapan mereka selama 24 jam penuh.
Narasi mengenai Kisah Relawan PMI Jambi adalah tentang pengorbanan waktu dan kerinduan. Saat terjadi kebakaran hutan atau banjir bandang yang kerap melanda wilayah Sumatera, para relawan ini menjadi rombongan pertama yang berangkat menuju titik lokasi bencana. Seringkali, penugasan ini memakan waktu yang lama sehingga mereka menjadi sosok yang Jarang Pulang ke Rumah. Mereka harus merelakan momen-momen penting bersama keluarga, seperti hari ulang tahun anak atau perayaan hari besar, demi menjalankan mandat kemanusiaan yang telah mereka pilih secara sukarela.
Ada sebuah Fakta menyentuh di mana para relawan ini terkadang harus menempuh perjalanan air berjam-jam menggunakan perahu motor hanya untuk mencapai desa terpencil yang terisolasi banjir. Di sana, mereka tidur di emperan sekolah atau tenda darurat dengan fasilitas seadanya. Meskipun lelah, senyum dari warga yang menerima bantuan makanan atau layanan medis menjadi obat penawar letih yang paling mujarab. Pengalaman-pengalaman di lapangan inilah yang membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh dan memiliki empati yang sangat dalam terhadap penderitaan orang lain.
Tugas di Jambi memang tidak mudah, terutama saat musim kemarau panjang di mana kabut asap mulai menyelimuti wilayah tersebut. Relawan PMI harus berjibaku memberikan pertolongan pertama pada korban sesak napas di tengah udara yang tidak sehat. Tanpa adanya jaminan gaji yang besar seperti pekerja kantoran, motivasi mereka murni berasal dari keikhlasan. Hal ini seringkali menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat umum mengenai apa yang sebenarnya mereka cari. Jawabannya sederhana: kepuasan batin saat bisa menjadi perantara kebaikan bagi orang-orang yang sedang tertimpa musibah.
