Melalui program pendampingan mental yang terintegrasi, para relawan psikososial dikerahkan ke desa-desa yang paling terdampak oleh polusi udara. Mereka memberikan ruang bagi warga untuk bercerita dan meluapkan emosi yang selama ini terpendam di bawah tekanan bencana. Bagi anak-anak, program ini dikemas dalam bentuk aktivitas kreatif dan permainan di dalam ruangan yang bertujuan untuk mengurangi trauma serta memberikan pemahaman mengenai cara menjaga diri di tengah polusi. Mengalihkan perhatian mereka dari langit yang menguning menjadi aktivitas yang positif sangat membantu dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.
Selain itu, program pendampingan mental ini juga menyasar para kepala keluarga yang mengalami tekanan ekonomi akibat terhentinya aktivitas luar ruangan, seperti petani dan buruh harian. Ketidakmampuan untuk bekerja demi menafkahi keluarga di saat kondisi lingkungan tidak mendukung sering kali memicu konflik internal dalam rumah tangga. Petugas di lapangan berperan sebagai fasilitator untuk memberikan dukungan moral dan teknik relaksasi sederhana agar masyarakat tetap memiliki daya tahan mental (resiliensi) dalam menghadapi krisis yang sedang berlangsung. Kesiapan mental adalah modal utama untuk bisa bangkit kembali setelah bencana berlalu.
Kerja sama dengan tenaga ahli psikologi dan psikiater dari rumah sakit daerah juga dilakukan untuk menangani kasus-kasus yang membutuhkan intervensi medis lebih lanjut. Sinergi ini memastikan bahwa setiap warga mendapatkan layanan yang sesuai dengan tingkat keparahan gangguan mental yang dialami. Penanganan kesehatan jiwa di tengah bencana udara adalah langkah maju dalam manajemen krisis di Indonesia, di mana sering kali aspek non-fisik dianggap sebagai urusan nomor dua. Padahal, jiwa yang sehat akan mempercepat pemulihan fisik tubuh dari paparan polutan berbahaya.
Edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental juga dilakukan melalui media sosial dan saluran komunikasi komunitas. Masyarakat diajak untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anggota keluarga mereka selama musim kebakaran lahan. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat memutus stigma bahwa mencari bantuan psikologis adalah hal yang tabu. Dengan dukungan sosial yang kuat, beban berat akibat langit yang tertutup asap akan terasa lebih ringan untuk dipikul bersama-sama.
