Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki Jejak Pendidikan Kemanusiaan yang panjang dan berkelanjutan, berperan krusial dalam membekali warga menghadapi berbagai krisis. Lebih dari sekadar organisasi penanggulangan bencana, PMI aktif menyelenggarakan program-program edukasi yang komprehensif, bertujuan membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar lebih mandiri dan tangguh di tengah situasi darurat. Ini adalah inti dari Jejak Pendidikan Kemanusiaan PMI, yaitu memberdayakan setiap individu dengan pengetahuan dan keterampilan praktis.
Salah satu fokus utama dari pendidikan kemanusiaan ini adalah pelatihan kesiapsiagaan bencana. PMI secara rutin mengadakan simulasi gempa bumi, banjir, hingga kebakaran di berbagai tingkatan, mulai dari sekolah dasar hingga komunitas dewasa. Misalnya, pada tanggal 10 April 2025 lalu, PMI Kabupaten Bandung berhasil melatih 250 siswa dan 30 guru di tiga sekolah dasar di daerah rawan longsor tentang prosedur evakuasi dan pertolongan pertama dasar. Pelatihan ini diadakan selama dua hari penuh, dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dan diawasi oleh tim pelatih profesional dari PMI serta dua petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Melalui kegiatan ini, PMI ingin memastikan bahwa respons pertama datang dari warga yang terdampak itu sendiri.
Selain kesiapsiagaan bencana, Jejak Pendidikan Kemanusiaan PMI juga mencakup edukasi kesehatan dan sanitasi. Program-program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil atau pasca-bencana. PMI mengajarkan praktik hidup bersih dan sehat, pentingnya imunisasi, serta cara penanganan penyakit menular. Edukasi ini disampaikan dengan metode interaktif, melibatkan partisipasi aktif dari peserta agar informasi mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah-sekolah juga merupakan bagian integral dari Jejak Pendidikan Kemanusiaan PMI. PMR tidak hanya diajarkan keterampilan kepalangmerahan, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepemimpinan. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan keluarga. Setiap hari Jumat, tim pembina dari PMI Kota Makassar secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah binaan untuk memantau perkembangan anggota PMR dan memberikan materi tambahan. Dengan demikian, PMI tidak hanya menyiapkan generasi tanggap bencana, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian sosial sejak dini.
